Kongres PPFI 2015 Penuh Gratifikasi? | SM BlogJurnalis

Senin , 26 Juni 2017

Kongres PPFI 2015 Penuh Gratifikasi?

27 September 2015 13:23 WIB by: Category: Artikel, Blog Jurnalis A+ / A-

JAKARTA – Kongres ke-19 Persatuan Produser Fim Indonesia (PPFI) 2015, yang baru saja purna akhir pekan lalu masih berbuntut. Pihak yang kalah dalam kongres melempar tudingan dugaan gratifikasi mewarnai pelaksanaan kongres organisasi produser film tertua di Indonesia itu.

Dugaan itu muncul, setelah adanya pertanyaan dari peserta kongres tentang biaya yang dikeluarkan PPFI untuk pejabat Kemenparekraf sebesar Rp 36 juta. “Jika benar terjadi pemberian semacam itu, sebaiknya segera dilaporkan ke KPK. KPK yang kemudian melakukan verifikasi dan menentukan, apakah pemberian tersebut termasuk gratifikasi atau bukan,” kata Krisna Mukti, Anggota Komisi X DPR, sebagaimana rilis yang diterima Suara Merdeka, Selasa (22/9)

Jika tudingan itu benar, Krisna menyayangkan jika pemberian yang berkaitan dengan jabatan tersebut, dilakukan PPFI. Dia menambahkan, bisa jadi hal itu disebabkan ketidaktahuan bahwa pemberian tersebut berpotensi pada gratifikasi tadi. “Jadi, sebaiknya memang harus berhati-hati”.

Dugaan itu pula, yang menjadi salah satu alasan keluarnya dua anggota tim formatur, Ody Mulya Hidayat dan Chand Parwez Servia dari PPFI. Menurut Chand Parwez, sebenarnya pertanyaan peserta kongres terkait pemberian kepada pejabat Kemenparekraf, tersebut, dipicu dari keterlambatan penyampaian bahan dan laporan pertanggungjawaban keuangan. Laporan tersebut, menurut Chand Parwez baru diberikan pada hari kongres sehingga anggota tidak diberikan kesempatan sama sekali untuk mempelajari. “Sangat mengkhawatirkan, apalagi pemberian kepada pejabat Kemenparekraf jelas-jelas merupakan perbuatan yang dilarang,” kata Parwez.

Keterlambatan penyampaian bahan laporan keuangan, juga memicu pertanyaan lain seputar besarnya biaya entertainment lebih dari Rp. 90 juta. Biaya tersebut, menurut Parwez sebelumnya juga tidak pernah dibicarakan dengan anggota dan sesama pengurus lain.

“Tahun 2014 lalu, kami para anggota PPFI juga dimintai sumbangan oleh Ketua Umum untuk organisasi, berkenaan dengan fasilitas pengembalian/keringanan Pajak Hiburan dari Pemda DKI. Tapi laporan keuangan yang kami terima, tidak mencatat sumbangan tersebut sebagai pendapatan lain-lain,” imbuh Parwez.

Parwez menilai Kongres ke-19 gagal menjadikan PPFI sebagai wadah penyampaian apresiasi anggota, sebagaimana diamanatkan AD/ART organisasi. Sesuai ketentuan Pasal 22 ayat 2 Anggaran Rumah Tangga PPFI, misalnya, bahan-bahan kongres wajib dikirimkan kepada anggota sekurang-kurangnya 15 hari sebelum pelaksanaan kongres.

Bukan cuma persoalan laporan keuangan. Hal lain yang memicu mundurnya Parwez dan Ody, adalah terkait mekanisme terpilihnya Firman Bintang, anggota lain tim formatur, sebagai Ketua Umum PPFI.

Menurut Ody, awalnya tercatat 46 pemilik hak suara pada voting pertama tentang mekanisme pemilihan formatur. Peserta kongres kemudian menyetujui bahwa hak suara yang tercatat adalah 46 votes dan tidak ada lagi tambahan hak suara untuk voting selanjutnya. Anehnya, pada saat voting dilakukan untuk memilih tim formatur, tiba-tiba jumlah suara menggelembung menjadi 49 tanpa penjelasan yang transparan kepada peserta kongres. “Hal ini menunjukkan bahwa ada usaha yang ingin memaksakan kemenangan dalam pemilihan dengan menggunakan cara-cara yang tidak demokratis dan berbudaya,” lanjut Ody.

Ody menambahkan, di saat tim formatur sedang menyusun kepengurusan baru, tiba-tiba Firman Bintang yang juga Ketua Umum demisioner menyampaikan laporan tim formatur kepada kongres. Setelah itu, secara sepihak Firman menyatakan, bahwa dirinya adalah Ketua Umum dalam kepengurusan yang baru dan meminta waktu satu minggu untuk menyusun ‘kabinet’ nya.  “Sebagai sesama tim formatur, kami tidak pernah menyepakati penunjukan beliau sebagai Ketua Umum,” kata Ody.

Ditemui di kantor PPFI, di Gedung PPHUI, Jakarta Firman Bintang menanggapi santai tudingan para koleganya itu. Menurut dia, siapapun bebas melaporkan tudingan gratifikasi yang dialamatkan kepada kepengurusan PPFI periode 2011-2015,”Tapi laporan itu menimbulkan efek turunan, yaitu dampak hukum di belakangnya yang bisa berbalik, jika tuduhan itu tidak terbukti,” katanya seusai menyusun kabinet kepengurusan PPFI periode 2015-2018, Selasa (22/9) siang.

Sedangkan ihwal keterlambatan penyampaian bahan dan laporan pertanggungjawaban keuangan, Firman mengatakan, seharusnya Ody yang bertindak sebagai Sekjen PPFI kepengurusan 2011-2015 sudah mempunyai jawabannya sendiri,”Dia kan Sekjend-nya, jadi dia sangat tahu persoalan itu, dan bisa menjelaskan kepada saudara Chand Parwez,” katanya.  Untuk tudingan secara sepihak Firman Bintang mengangkat dirinya sendiri sebagai Ketua Umum PPFI periode 2015-2018, Firman mengaku semakin bingung.

Sebab, dia mendapatkan suara terbanyak, atau 19 suara, sedangkan Chand Parwez mendapatkan 5 suara, dan Ody Mulya H mendapatkan 11 suara. Sedangkan Manoj Punjabi yang juga mendapatkan 5 suara memilih mundur dari tim formatur terlebih dahulu,”Saudara Chand Parwez lebih dari separuh usianya dihabiskan di PPFI, seharusnya beliau sangat tahu, mekanisme pengangkatan ketua umum PPFI. Kecuali pemilik suara terbanyak tidak bersedia menjadi ketua umum karena alasan pribadi dan melimpahkan kepada siapapun yang disepakati. Meski pemilik suara terbanyak formatur juga tidak otomatis menjadi Ketua Umum,” katanya sembari menyodorkan sebuah surat.

Yang isinya tanda tangan Chand Parwez Servia dan Ody Mulya Hidayat yang mundur dari kepengurusan PPFI 2015-2018, dan ditujukan kepada Ketua Umum PPFI periode 2015-2018. Dalam surat berkop hotel Oria, tempat Kongres PPFI 2015 diadakan itu, dijelaskan jika Chand Parwez dan Ody Mulya menyatakan pengunduran diri mereka, dikarenakan kesibukan mereka dalam memproduksi film. Surat itu ditandatangai oleh Chand Parwez dan Ody Mulya, tertanggal 17 September 2015.

Tidak itu saja, Kongres PPFI edisi ke XIX yang Ketua Pelaksananya dipegang Zairin Zain, itu juga dituding ricuh? Padahal, sebagaimana dikatakan Zairin Zain, usia 59 dalam sebuah organisasi bukan waktu yang pendek. Selain telah melewati 7 presiden, dan berbagai Kementrian yang mengurusi perfilman, PPFI juga telah melewati berbagai pasang surut sebagai sebuah organisasi. Singkat kata, Zairin Zain ingin mengatakan, dengan usia seperti itu, PPFI seharusnya sudah matang, meski masih jauh dari sempurna. Tapi benarkah ricuh kongres yang jalannya sidang dikomandoi Adisoerya Abdi itu?

Semua berjalan dengan smood. Bahkan dari pembacaan tata tertib, pertanggungjawaban Ketua Umum PPFI peridose 2011-2015, hingga pemungututan suara pemilihan Ketua Umum PPFI periode 2015-2018. Pembentukan dua komisi, yang masingmasing diketuai oleh Zairin Zain dan Sys NS juga berjalan dengan hangat, penuh dengan canda. Sementara tiga anggota formatur, yaitu Firman Bintang, Ody Mulya H dan Chand Parvez Servia berembug diantara mereka sendiri. Penilaian ini tidak berlebihan, karena penulis berada di tempat acara, dari mula, dari pagi hari, hingga acara purna, di sore harinya, bersama sejumlah wartawan lainnya.

Atau jika hendak menimbang kesahihan tulisan ini, mudah saja melakukannya. Silakan hubungi Zairin Zain sebagai Ketua Panitia Kongres, juga Adisoerya Abdi sebagai salah satu anggota pengendali jalannya sidang Konggres, yang dibuka oleh Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Bahwa setelah itu ada keributan, atau dituding sebagai kericuhan memang benar terjadi. Tapi itu terjadi setelah Kongres usai, dan yang diributkan adalah, maaf, adalah persoalan pribadi, antara Ody Mulya Hidayat dan Rudy Sanyoto. Keributan itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kongres, atau esensi kongres. Memang antara kedua persona itu, dapat kita duga nyaris terjadi adu pukul, setelah sebelumnya berbaku argumen, yang nyaris semua peserta kongres menjadi saksinya.

Sebelum akhirnya mereka berdua, ditenangkan oleh Zairin Zain, di belakang arena kongres, yang berbatas kaca pemisah. Argumen antara mereka berdua memang tidak terdengar peserta kongres, tapi bahasa tubuh diantara keduanya menyuratkan dengan jelas persitegangan diantara mereka. Yang pasti Rudy Sanyoto dengan sisasisa kemarahannya menyisakan murka kepada beberapa rekannya, setelah masuk kembali ke arena kongres yang terkaget-kaget dengan sembari peristiwa itu mengatakan,”Enak saja, utang nggak ngaku. Gampang aja bilang, PT-nya udah bubar,” katanya sembari ditenangkan beberapa produser film.

Jadi, siapa yang membuat ricuh di arena kongres? Bahwa setelah itu Ody membuat cerita berbeda di luar arena kongres, hal itu toh tetap ditanggapi santai oleh peserta Kongres, termasuk oleh Ketua Umum Terpilih PPFI periode 2015-2018 Firman Bintang. Atau dalam bahasa guyon Sys NS, keributan antara Ody Mulya H dan Rudy Sanyoto di arena Kongres PPFI XIX adalah gimmick belaka. Semua orang juga maklum, kebenaran tetap akan hidup dengan caranya sendiri. Meski kita juga tahu, kebohongan yang diceritakan dan dikatakan berulang-ulang akan menjadi kebenaran pula pada akhirnya. Tapi kebenaran hakiki, toh akan tetap mencari rumahnya sendiri. Dan rumah kebenaran tidak bersama orangorang yang dengan bangga gemar membalikkan fakta sebenarnya di lapangan. (benny benke)

Comments

comments

Kongres PPFI 2015 Penuh Gratifikasi? Reviewed by on . JAKARTA -- Kongres ke-19 Persatuan Produser Fim Indonesia (PPFI) 2015, yang baru saja purna akhir pekan lalu masih berbuntut. Pihak yang kalah dalam kongres mel JAKARTA -- Kongres ke-19 Persatuan Produser Fim Indonesia (PPFI) 2015, yang baru saja purna akhir pekan lalu masih berbuntut. Pihak yang kalah dalam kongres mel Rating: 0
scroll to top