Film Jenderal Soedirman | SM BlogJurnalis

Sabtu , 25 Maret 2017

Film Jenderal Soedirman

Melibatkan Tentara Asli

11 September 2015 19:16 WIB by: Category: Artikel, Blog Jurnalis A+ / A-

JAKARTA — Film Jenderal Soedirman yang ditayangkan sejak tanggal  27 Agustus, kemarin, hingga tanggal 30 Agustus , sebagaimana data yang dirilis kelompok 21, telah mengumpulkan penonton sebanyak 60.096 penonton. Film ini, sebagaimana diharapkan juga oleh Viva Westi selaku sutradaranya, bisa ditonton oleh masyarakat Indonesi seluas-luasnya.

Apalagi, presiden Jokowi yang turut menonton premiere film yang diproduseri Sekar Ayu Asmara dari Padma Pictures dan mendapatkan dukungan dari Yayasan Kartika Eka Paksi serta Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat ini, telah mewajibkan para siswa untuk menonton film ini.

Apa yang luar biasa dari film yang mengambil lokasi syuting di Bandung, Magelang, Yogyakarta, dan Wonosari, selama 43 hari ini? Yang konon, sebagaimana dikatakan Letnan Jenderal (purn) Kiky Syahnakri membutuhkan bujet pembuatan hingga angka Rp 10-15 miliar.

Yang pasti, sebagaimana diyakini Viva Westi, film ini  berikhtiar mengajak anak-anak muda mengedepankan jiwa patriotisme seperti yang dilakukan seorang Jenderal Soedirman. Karena, menumbuhkan rasa cinta tanah air sejak dini, adalah kewajiban setiap warga bangsa. Apalagi banyak anak muda saat ini, menurut Viva, cenderung tidak paham apalagi tahu dengan perjuangan para pahlawan mereka dalam meraih kemerdekaan.

Disesela kesibukannya mempromisikan film yang dilakoni Adipati Dolken (Soedirman), Baim Wong (Sukarno), Nugie (Hatta), dan Mathias Muchus (Tan Malaka) itu, kepada Suara Merdeka, Viva mengisahkan tentang dibalik layar pembuatan film, yang fokus di masa gerilya Jenderal Soedirman selama tujuh bulan, setelah agresi militer Belanda ke Yogyakarta, 19 Desember 1948.

Menurut dia, proses secara keseluruhan pembuatan film ini berjalan hampir selama dua tahun. Dari proses pembangunan ide, penulisan dan pematangan skenario, pemilihan pemain, penentuan lokasi syuting hingga proses syutingnya, dan editingnya. “Dari proses penulisan skenario dan riset menghabiskan waktu setahun. Dan setahun lagi digunakan untuk syuting hingga proses editing dan siap tayang,” katanya tengah Minggu ini.

Dan sebagaimana proses kreatifnya menyutradarai sejumlah proyek filmnya terdahulu seperti Serambi (2006),  Suster N (2007), May (2008), Pocong Keliling (2010), Rayya, Cahaya Diatas Cahaya (2012) dan Mursala (2013) dia banyak menemui kesulitan, yang biasanya akan datang bersama sejumlah kemudahan dalam proses produksinya.

Kesulitan yang paling besar, menurut dia, “Adalah penentukan Point of View, dari sudut mana kisah Soedirman, dari lahir hingga wafat, atau waktu agresi militer 1 atau agresi militer 2, atau semua seperti layaknya film Biopik,” ujarnya. Namun, imbuh dia, setelah melalui diskusi yang panjang, “Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil kurun waktu 1945 – 1949″.

Sedangkan kemudahankemudahan selama proses produksi, adalah dia bersama timnya bisa menggunakan sejumlah lokasilokasi milik Angkatan Darat yang menurutnya, mungkin sangat sulit dimasuki atau digunakan masyarakat umum.

Tidak itu saja, kemudahan juga diberikan pihak Angkatan Darat bahkan sampai ke persoalan penyediaan senjata serta TNT. “Jadi semua difasilitasi pihak Angkatan Darat. Tidak itu saja, para personil mereka juga terus mendampingi kami. Jadi kalau adegan perangnya terlihat rapi, itu karena kami selalu berkonsultasi dengan mereka,” katanya.

Tidak berhenti sampai di situ. Sejumlah figuran yang dicitrakan menjadi tentara Indonesia di film ini, demikian halnya dengan figuran yang dicitrakan sebagai tentara Belanda, “Semuanya adalah tentara asli, yang tentu hasilnya menjadi lebih meyakinkan, dibanding kami misalnya, memakai figuran yang tidak mempunyai pengalaman soal “ketentaraan”".

Bantuan atau kemudahan yang diberikan pihak Angkatan Darat tidak hanya berhenti sampai di situ. Bahkan sampai pada proses riset film ini, mereka juga menyediakan sejumlah sejarawan. Meski pada saat bersamaan, sebagai sutradara, Viva tetap mempunyai cara pendekatan membuat film biopik sendiri, seperti mencari informasi ke orangorang terdekat keluarga Jenderal Soedirman.

“Pastinya ada sejarawan dari Angkatan Darat atau dan juga dari kami, orang terdekat atau keluarga Jenderal Soedirman juga membantu kami, ” ujar Viva. Bahkan tidak puas sampai di situ. Untuk mendekatkan realias sejarah yang sebenarnya, peraiah piala Vidia sebagai Sutradara Terbaik dan nominator piala Citra untuk Sutradara Terbaik itu, juga mewawancarai orangorang yang sempat ikut bergerilya di zamannya Jenderal Soedirman.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, sebagai kreator, dia telah berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan data sejarah yang paling obyektif dari berbagai sumber terdekat, yang paling mengetahui jejak langkah salah satu pahlawan nasional itu. Pertanyaan turunannya adalah, sebagaimana pertanyaan klise yang banyak ditujukan kepada seorang sutradara, setelah proses riset dirampungkan adalah, apakah seorang Viva Westi mempunyai kebebasan penuh menginterpretasikan film ini selaras ide kreatifitasnya? Atau tetap sejalan dengan kesepkatan dengan produser dan penulis skenario? Sebaimana proses kerja segita emas antara sutradara, penulis skenario dan produser yang galib terjadi di dunia film itu?

Menurut Viva, kebebasan berkreatifitas bukan berarti semau maunya. “Saya dengan penulis skenario saya Tubagus Deddy, berusaha keras mencari jalan agar kami bisa membuat cerita yang nantinya akan menarik ditonton masyarakat. Walau mungkin akan mengundang protes atau kritikan. Produser kami, Kiki Syahnakri dan Mabes AD juga selalu mengawasi jalan cerita yang kami buat. Jadi bisa dibilang skenario adalah hasil samasama buah pikiran dari mereka juga,” katanya.

Benar saja dengan apa yang telah dipikirkan oleh Viva Westi. Begitu film itu telah diasup publik, kritik yang ditujukan kepada pelakon Jend Soedirman, datang dari segala penjuru angin. Kalangan awam bahkan banyak mengkritik film ini, dan disasarkan kepada pelakon Jenderal Soedirkam yang dilakoni aktor muda tampan Adipati Dolken. Artikulasi atau cara bicara Jenderal Soedirman yang Jakarta banget, dan tidak ada jejak bahasa Indonesia dengan cengkok Purbalingga (Eks Karasidenan Banyumas) sebagai latar belakang Jenderal Soedirman lahir dan besar, menjadi mesiu pertama yang diarahkan kepadanya.

Selain itu, paras Jenderal Soedirman yang kuyu, karena dihajar penyakit paruparu, juga tidak begitu membekas di paras Adipati Dolken. Bahkan ada yang menuding, Dolken terlalu tampan sebagai Jenderal Soedirman.

Menanggapai hal itu, Viva mempunyai jawabannya sendiri. Menurut dia, semua yang diakerjakan bersama timnya telah terukur, dan lahir berdasarkan dari perhitungan yang matang. Bahkan pilihan kepada Dolken untuk memerankan sosok Jenderal Soedirman bukan tanpa perhitungan yang teruji.

Bahkan kala Adipati Dolken ditunjuk sebagai Jenderal Soedirman, dan dia berinisiatih bertemu dengan pak Teguh anak bungsu dari Pak Dirman, “Yang terucap dari mulut pak Teguh adalah, hidung bapak seperti Adipati,” katanya. Selain itu, Pak Dirman menurut Viva juga ganteng, dan tidak kalah gantengnya dengan Adipati, “Jadi buat saya, kenapa harus membandingkan sosok pak Dirman dengan Adipati, yang penting adalah, apakah Adipati berhasil membuat yang menonton yakin, dan yang mereka lihat adalah Soedirman?” katanya.

Ihwal soal cara berbicara atau logat, itupun juga sudah ditanyakan Viva langsung kepada pihak keluarga. Dan keterangan pihak keluarga menyatakan, “Pak Dirman tidak ngapak (cara bicaranya), gaya bicaranya seperti orang Jawa umumnya. Jadi siapa lagi yang bisa kami percaya kalau bukan keluarga? Mengingat dokumentasi suara pak Dirman tidak kami temukan,” katanya melempar pertanyaan retoris.

Lalau apakah raihan penonton film ini sangat berdampak dengan imbauan Jokowi yang sampai mewajibkan para siswa untuk menonton film ini? Menurut Viva berdampak nyata tidak juga. Tapi, katanya, “Kalau memang pemerintah serius (memberikan dukungan atas peredaran film ini) mestinya seminggu pertama ini, gedung bioskop sudah penuh dengan anak sekolah, dan kami tidak lagi ketar ketir. Karena begitu penonton sepi, pihak 21 akan menurunkan film itu dari layar mereka,” katanya masygul.

Sebagaimana kita pahami bersama, Kelompok 21 selaku eksebitor, memang mempunyai dalihnya sendiri ihwal film nasional yang diputar di jaringan bioskopnya. Menurut pihak 21 mereka sebagai pemilik toko (baca; layar bioskop) hanya berpihak kepada pembeli barang, atau penonton film yang membeli tiket. Selama tiket film dibeli penonton, apapun film itu, mereka akan terus menayangkan film tersebut. Demikian halnya sebaliknya, jika film itu tidak terbeli tiketnya, apapun alasannya, tanpa ampun, mereka akan bersegera menurunkan film itu, betapapun mulia dan baik sekali film itu isinya.

Lalu apakah sebagai sutradara Viva sudah puas dengan hasil akhir film ini? “Puas atau tidak puas adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Kepuasan pembuat film adalah banyaknya penonton dan diapresiasikan, entah dipuji atau dikritik, itu yang luar biasa,” katanya berusaha arif. Bahkan ada kritik tajam yang mengarah kepadanya, tetap dberusaha dengan arif ditanggapinya.

Sebagaimana kritik yang kemukakan oleh sejarawan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Aswi Warman Adam, via salah sebuah artikelnya yang dimuat salah sebuah media nasional barubaru ini, yang menuding film Jenderal Soedirman cara menggambarkan sosok Tan Malaka tidak pada tempatnya. Dan dia meminta film itu ditarik dari peredaran, untuk kemudian menghilangkan beberapa adegan yang diatuding merendahkan sosok Tan Malaka.

Dalam film Jenderal Soedirman, menurut Aswi Warman Adam, digambarkan, “Seolah-olah Tan Malaka haus kekuasaan, sementara itu Soedirman menolak melawan negara. Diceritakan tentang tentara komunis yang tidak membayar makanan kepada pedagang asongan. Seorang Tionghoa yang menjadi pemilik toko mengatakan bahwa tentara komunis itu mempunyai presiden sendiri. Kemudian ditampilkan adegan Tan Malaka berpidato bahwa testamen yang diperolehnya dari Sukarno-Hatta menjadi legitimasi bagi dia untuk menjadi presiden.

“Tan Malaka berpidato dengan latar belakang spanduk yang bergambar palu arit (kalau itu lambang partai Murba, jelas lambang partai ini bukan palu arit). Kamera menyoroti pula buklet yang bertulisan “Tan Malaka Presiden Kita”. Adegan selanjutnya mengenai Tan Malaka adalah ketika ia bersama beberapa orang lain diseret dengan tangan terikat tali di dalam hutan. Dilaporkan bahwa Tan Malaka dan pengikutnya ditangkap atas perintah Soengkono. Kemudian terdengar tembakan dor-dor”.

Aswi Warman Adam melanjutkan,”Tidak ada perintah penangkapan terhadap Tan Malaka, walaupun ia memilih bergerilya di Jawa Timur. Semoga produser menarik kembali film itu dan menghilangkan adegan-adegan yang melecehkan pahlawan nasional Tan Malaka.”

“Selain pelecehan terhadap politikus sipil tadi, pada film ini terdapat kekeliruan. Ketika bertemu dengan Kepala Negara di Gedung Agung Yogyakarta, Soedirman mengatakan menyerahkan “pemerintahan militer” kepada pemerintahan Sukarno-Hatta. Saya menonton film ini dua kali, sehingga mudah-mudahan tidak salah dengar. Pada teks bahasa Inggris tertulis military command, jadi jabatan sebagai pemimpin militer yang diserahkan. Apakah pemeran Soedirman yang salah ucap atau ini memang disengaja?”

Menanggapi artikel ini, Viva berusaha tentang,”Buat saya tidak ada yang mesti ditanggapi, semua orang mempunyai pandangan masing masing mengenai sejarah. Yang pasti film ini bercerita dari sudut pandang Soedirman,” katanya sembari berharap mudah mudahan makin banyak film berlatar belakang sejarah, dan tidak alegi untuk membuat, karena takut salah atau takut dikiritik, “Atau bahkan disomasi keluarga atau yang lainnya. Kalau ada yang tidak suka, silahkan membuat film yang menurut mereka seperti itulah sejarahnya,” katanya. (benny benke).

Comments

comments

Film Jenderal Soedirman Reviewed by on . JAKARTA -- Film Jenderal Soedirman yang ditayangkan sejak tanggal  27 Agustus, kemarin, hingga tanggal 30 Agustus , sebagaimana data yang dirilis kelompok 21, t JAKARTA -- Film Jenderal Soedirman yang ditayangkan sejak tanggal  27 Agustus, kemarin, hingga tanggal 30 Agustus , sebagaimana data yang dirilis kelompok 21, t Rating: 0
scroll to top