Pelaku UMKM Olahan Pangan Terkendala Legalitas Usaha | suaramerdeka.com
Home » Bisnis » Pelaku UMKM Olahan Pangan Terkendala Legalitas Usaha

Pelaku UMKM Olahan Pangan Terkendala Legalitas Usaha

27 Februari 2017 13:52 WIB Category: Bisnis, UMKM A+ / A-
Pengunjung sedang membeli makanan olahan khas kota Semarang pada pameran Olahan Pangan di atrium Java Mall. (suaramerdeka.com/ Fista Novianti)

Pengunjung sedang membeli makanan olahan khas kota Semarang pada pameran Olahan Pangan di atrium Java Mall. (suaramerdeka.com/ Fista Novianti)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang olahan makanan mengeluhkan terkendalanya legalitas usaha. Sebagian besar diantara mereka belum memiliki legalitas usaha yaitu izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifkat Halal.

“Legalitas usaha sangat diperlukan bagi pelaku UMKM Olahan Pangan. Jika mereka tidak memiliki dua hal tersebut maka konsumen tidak percaya apakah produk tersebut halal dan aman untuk dikonsumsi,” tutur Dyah Nikwati produsen Telur Asin Semarang Matahari saat pameran Produk Olahan Pangan & Kreatif Expo di atrium Java Mall.

Dyah menuturkan, salah satu upaya agar UMKM makanan memiliki daya saing tinggi atau bahkan bisa menembus pasar ekspor adalah memiliki izin PIRT yang dikeluarkan dari Dinas Kesehatan kota atau kabupaten setempat. Serta, memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) termasuk didalamnya juga dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Legalitas usaha menjadi keharusan bagi pelaku UMKM makanan. Sayangnya, tidak semua pelaku usaha sanggup memilikinya.

Keterbatasan dana menjadi pemicunya. Modal dan dana yang terbatas membuat pengusaha belum memiliki PIRT dan sertifikat halal. Oleh sebab itu dibutuhkan peran dari pemerintah untuk membantu pelaku UMKM mendapatkannya.

Kemudahan mendapatkan legalitas usaha perlu bantuan dari pemerintah. Selain legalitas usaha, pelaku UMKM juga terkendala pemasaran. Mereka kerap kebingungan harus memasarkan produknya kemana. Disamping mempromosikan produk melalui online, pihaknya sering mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh berbagai pihak. Dibawah binaan UMKM Jateng, ia mengikuti pameran di Java Mall mulai 21-27 Februari ini.

“Animo pengunjung untuk membeli telur asin cukup banyak. Sampai saat ini sudah terjual sekitar 2 ribu telur asin,” katanya. Selain telur asin, beragam oleh-oleh khas Semarang dipromosikan. Antara lain, lapis ubi ungu, kerupuk kulit ikan, singkong presto, botok telur asin, orak-arik peda, dan masih banyak lagi.

Adapula produk olahan makanan asal Kabupaten Pati seperti teh daun kelor, kerupuk cumi, kerupuk udang, kerupuk ikan olahan Juwana Pati, kerupuk waluh, stik sayur, ceriping ketela rasa gadung, jamur krispi, keripik pisang cokelat, stik buah naga, emping empon-empon dan masih banyak lagi. Kesemuanya dibungkus dalam plastik mika dengam berbagai harga mulai Rp 10 ribu-20 ribu.

Koordinator UMKM Pangan Kabupaten Pati, Ning Yulia mengatakan, dalam sehari ia menargetkan omzet penjualan sekitar Rp 2 juta. Pihaknya optimis dapat tercapai mengingat tingginya animo pengunjung mal untuk membeli aneka produk makanan dari Pati.

(Fista Novianti/ CN33/ SM Network)

Comments

comments

Pelaku UMKM Olahan Pangan Terkendala Legalitas Usaha Reviewed by on . [caption id="attachment_11239" align="alignnone" width="300"] Pengunjung sedang membeli makanan olahan khas kota Semarang pada pameran Olahan Pangan di atrium J [caption id="attachment_11239" align="alignnone" width="300"] Pengunjung sedang membeli makanan olahan khas kota Semarang pada pameran Olahan Pangan di atrium J Rating: 0
scroll to top