Mempromosikan Islam Nusantara | suaramerdeka.com

Selasa , 28 Maret 2017

Home » Bebrayan » Mempromosikan Islam Nusantara

Mempromosikan Islam Nusantara

24 Juni 2015 9:57 WIB by: Category: Bebrayan, suara warga A+ / A-
Foto Istimewa

Foto Istimewa

AKHIR-akhir ini wacana Islam Nusantara makin ramai diperbincangkan. Istilah tersebut populer setelah Kementerian Agama (Kemenag) dan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) dengan tegas menyatakan hendak mempromosikan Islam Nusantara secara global.

Di lingkup Kemenag, promosi Islam Nusantara akan ditempuh melalui jalur pendidikan. Di antaranya dengan rencana mendirikan perguruan tinggi Islam internasional tingkat magister (S2) dan doktoral (S3) yang berorientasi pada pendidikan Islam khas Nusantara. Sementara NU secara serius akan menggodok kajian Islam Nusantara dalam muktamarnya yang ke-33 dengan tema besar “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia,” Agustus mendatang.

Islam Nusantara merujuk pada berbagai praktik keislaman yang hidup (living Islam) di seluruh kawasan Nusantara mulai dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan daerah lainnya yang merupakan hasil perpaduan Islam dengan budaya setempat. Studi-studi ilmiah tentang Islam Nusantara misalnya dapat dilihat dalam kajian van den Berg (1989), Azra (1992), dan Muljana (2005). Islam Nusantara kadang juga dipadankan dengan Islam Asia Tenggara seperti dalam kajian Ibrahim, dkk. (1985). Belakangan Islam Nusantara juga diidentikkan dengan Islam Indonesia seperti kajian Laffan (2011).

Diskursus Islam Nusantara tidak terbatas pada aspek kesejarahan tersebarnya Islam di kawasan Nusantara pra kolonialiasi Barat, melainkan juga mengungkap hubungan Islam dan tradisi lokal yang berbeda dengan model Islam mainstream sebagaimana di tempat asalnya: Arab. Islam Nusantara juga bukan sekadar menyangkut tradisi tasawuf yang menjadi ciri awal perkembangan Islam, melainkan terkait dengan semua aspek keislaman yang hidup di masyarakat.

Secara teoretik, para sarjana menggunakan beberapa Istilah untuk menyebut karakter Islam Nusantara seperti Islam sinkretik (Geertz, 1981; Beatty 1999; Mulder, 2001), Islam akulturatif (Woodward, 1988), Islam sintesis (Ricklefs, 2012), Islam kolaboratif (Nur Syam, 2005), dan pribumisasi Islam yang digagas Gus Dur. Meskipun para sarjana mengajukan istilah yang berbeda, namun ada satu konsepsi yang sama bahwa proses Islamisasi di Nusantara berlangsung harmonis dengan budaya, tradisi, nilai, dan adat istiadat setempat.

Harmoni antara ajaran Islam dan budaya Nusantara yang menunjukkan kearifan lokal inilah yang hendak dipromosikan. Islam Nusantara layak dipromosikan karena dianggap sebagai salah satu model Islam rahmatan lil ‘alamin.

Untuk memperoleh gambaran utuh Islam Nusantara, kita perlu membuka kembali dan membaca ulang berbagai manuskrip keislaman warisan para ulama Nusantara yang secara otentik dan otoritatif menggambarkan pemikiran, pengetahuan, dan pandangan keagamaan mereka sebagai hasil dialektika antara budaya setempat dan nilai-nilai normatif Islam.

Menurut para filolog, jumlah manuskrip Islam di Nusantara mencapai ribuan baik yang menggunakan tulisan Jawi (bahasa Melayu dengan aksara Arab), tulisan Pegon (bahasa Jawa, Sunda, atau Madura dengan aksara Arab), maupun yang ditulis dengan bahasa Arab itu sendiri. Keberadaan naskah-naskah Islam Nusantara yang melimpah tersebut merupakan khazanah berharga yang menunggu tangan-tangan tekun para akademisi dan peneliti untuk mengkajinya.

Tekad Kementerian Agama dan NU untuk mempromosikan Islam Nusantara patut didukung dan diapresiasi. Meski demikian, rencana Kemenag mendirikan perguruan tinggi baru yang berorientasi pada pendidikan Islam khas Nusantara perlu dipertimbangkan ulang. Hemat penulis, daripada mendirikan lembaga baru dengan dana yang tentu sangat besar dan sumber daya manusia yang banyak, lebih bijak jika Kemenag memberdayakan perguruan tinggi yang ada.

Bukankah Kemenag sudah menetapkan kebijakan untuk membangun beberapa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) unggulan sebagai World Class University. Lebih baik anggaran pembangunan universitas baru dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan tersebut. Misalnya dengan mewajibkan PTKI membuka Program Studi Islam Nusantara baik untuk jenjang S1, S2, dan S3.

Kemenag juga perlu bersinergi dengan NU maupun organisasi Islam lainnya yang memiliki tekad sama mengembangkan Islam Nusantara. Kemenag melalui institusi pendidikannya menggarap aspek teoretik akademiknya, sedang organisasi Islam menerjemahkan dalam praktik amaliahnya.

Di tengah munculnya Islamophobia terutama di dunia Barat akibat ulah oknum-oknum yang merusak misi damai Islam, dan pemberitaan media-media Barat yang kadang tidak objektif dan tendensius terhadap Islam, karakter Islam Nusantara dapat menjadi obat penawar yang memulihkan fitrah Islam sebagai agama yang penuh cinta, kedamaian, dan kearifan (love, peace, and wisdom). Islam yang menjunjung toleransi (tasamuh), mengedepankan harmoni (tawazun), berwatak moderat (tawasut), dan menegakkan prinsip keadilan (ta’adul).

Mohammad Affan, SS, MA
Peneliti Forum Kajian Islam dan Politik (FKIP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Kontak:  0896 9440 9087 / 081 931 711 065

Comments

comments

Mempromosikan Islam Nusantara Reviewed by on . [caption id="attachment_964" align="alignleft" width="300"] Foto Istimewa[/caption] AKHIR-akhir ini wacana Islam Nusantara makin ramai diperbincangkan. Istilah [caption id="attachment_964" align="alignleft" width="300"] Foto Istimewa[/caption] AKHIR-akhir ini wacana Islam Nusantara makin ramai diperbincangkan. Istilah Rating: 0

About Edyna Ratna Nurmaya

scroll to top